Apa Yang Bisa Kamu Lakukan Untuk Membantu Temanmu Yang Mengalami Kekerasan Dalam Pacaran

 

by 

 

Lika-liku sebuah hubungan tentu sangat beragam. Setiap hubungan tentunya memiliki cobaan atau permasalahannya masing-masing. Bila kamu berada dalam hubungan yang sehat dan tidak menyakitkan, tentu rasanya akan sangat melegakan. Hal itu merupakan sebuah nikmat dalam hidup yang pantas untuk disyukuri. Pasalnya nggak semua orang dapat merasakannya. Banyak kasus kekerasan yang terjadi bahkan ketika masih dalam hubungan pacaran.

Urusan kekerasan dalam pacaran sering jadi perdebatan. Ada yang bilang ini urusan privat hubungan mereka sehingga kita nggak perlu turut campur, tapi banyak yang bilang kalau kita harus mengintervensi sebelum salah satunya terjerumus terlalu jauh.

Contohnya adalah saat sahabat saya sendiri yang jadi korban. Selama 2 tahun lebih dia menjalin hubungan dengan pasangan yang benar-benar mengekang. Bahkan nggak ragu untuk menampar sampai-sampai meminta uang. Tentu rasanya dilema. Di satu sisi saya ingin berusaha menolongnya, tapi di sisi lain dia terlihat “baik-baik saja” dengan hubungannya yang seperti itu.

Selama setahun lebih saya mengalami dilema. Sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajaknya bicara. Kira-kira ya seperti ini langkah yang saya ambil untuk mencoba membantu teman saya itu.

Tidak mudah untuk membuka diri dan menceritakan pengalaman Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) yang tengah dialami. Alasannya sudah jelas, siapapun yang akan jadi tempat cerita pasti akan menyuruhnya untuk pergi dari kekasihnya.

Masalahnya, kita kadang tak acuh terhadap keinginan, perasaan, dan kasus temanmu ini. Dengan berani menceritakannya, berarti kamu dianggap sudah cukup dewasa sehingga masih bisa netral, untuk mendengarkan keluh kesahnya. Biarkan dia bercerita dulu, jangan langsung menghakiminya. Siapa tahu dia masih bimbang dengan apa yang sebenarnya diinginkan. Atau justru dia takut putus karena diancam atau gimana-gimana.

Nggak perlu tanya-tanya terlalu detail kalau dia nggak mau cerita

Kekerasan Dalam Pacaran biasanya tidak hanya terjadi satu kali dalam sebuah hubungan pacaran. Ya gimana, dalam hubungan yang sudah berjalan menahun, tentu sudah banyak hal yang terjadi dalam hubungan mereka. Bayangkan saja jika kamu ada di posisinya, nggak mudah lo untuk menceritakan permasalahan yang sudah lama dipendam. Kejujurannya untuk menceritakan hal tersebut adalah satu nilai tambah yang bisa kamu apresiasi.

Redam rasa kepo berlebihmu untuk masalah kayak gini. Apalagi kalau kamu hanya ingin mengetahuinya, terus justru disebar ke mana-mana. Nggak sopan tahu, mengulik luka hanya untuk dijadikan bahan gosipmu. Seperti di poin sebelumnya, “biarkan dia lega bercerita dahulu”. Kalau dia sudah merasa nyaman, pasti akan cerita dengan sendirinya kok.

 

Salurkan kepada lembaga yang menangani kasus KDP

Saya bukan ahli dalam urusan hubungan, lha wong sepanjang masa SMP-SMA aja pacaran cuma sekali. Itu pun nggak bertahan lama. Kala mendengar ceritanya, yang ada dalam benakku cuma “YOWES NDANG PUTUSIN WAE LAH!” ( ya sudah cepetan putusin aja – Bahasa Jawa). Karena itu saya merasa nggak layak untuk memberinya solusi. Saya merasa sudah tidak adil sejak dalam pikiran. Saya masih dalam tahap mendengar kasusnya, namun masih belum mampu memahaminya.

Kita harus paham kalau pengalaman setiap orang dalam hubungan pasti berbeda-beda dan nggak ada yang sama persis. Saya memutuskan bahwa jalan terbaik adalah dengan membawanya ke tempat curhat yang profesional. Yang sudah kompeten dan sering menangani kasus serupa. Biar langsung sama pakarnya aja, keputusan yang diambil pasti sudah sering dilakukan demi menjamin kebaikan bersama.

 

Yakinkan temanmu bahwa ia berhak mendapatkan yang jauh lebih baik

Dalam sebuah hubungan, salah satu hal terpenting adalah kebahagiaan. Kekerasan merupakan hal yang menyakitkan dan tidak membuat siapa pun bahagia. Nah, bila seseorang sudah merasakan Kekerasan Dalam Pacaran, apakah hal tersebut masih bisa dianggap sebagai kebahagiaan dalam sebuah hubungan? Saya sih percaya bahwa setiap orang punya hak untuk bahagia dan mendapatkan yang lebih baik kalau kasusnya kayak temen saya gitu.

Makanya saya berusaha menjelaskan pelan-pelan dan dengan bukti yang nyata, bahwa ia berhak untuk bahagia dan mendapatkan kebahagiaan dari pasangannya. Kalau memang sekarang dia sedang kena musibah kekerasan dalam pacaran, berarti dia belum menemukan bahagianya. Kuatkan dia untuk tidak menyerah mendapatkan bahagianya. Di sini peran sahabat jadi penting untuk selalu menemaninya. Meskipun akan sulit awalnya untuk meyakinkan temanmu agar berkonsultasi pada lembaga tersebut, ada baiknya kamu selalu menemaninya kala ia membutuhkannya. Tak lupa untuk selalu meyakinkan dirinya bahwa ia berharga dan berhak mendapatkan perlakuan yang jauh lebih baik dibanding dengan pasangannya sekarang.

Ya harus diakui selama kurang lebih satu tahun saya mencoba untuk jadi teman yang baik menemaninya, ada saja momen menjengkelkan. Seperti saat dia bilang “Tapi aku sayang…” meski dia sadar kalau yang dialaminya ini udah masuk ranah kekerasan dalam pacaran. Di sini saya sadar bahwa yang bisa membawa teman saya menemukan bahagianya ya dia sendiri. Kalau dianya belum mau, mau dipaksa model gimana juga nggak bakal berubah. Tapi tetap saya nggak menyerah untuk menemaninya. Kan memang itu tugasnya seorang sahabat. 🙂

Coba ajak temanmu untuk berkonsultasi dengan Yayasan Pulih 021-78842580 atau via Whatsapp 08118436633 (pada jam kerja dan hari kerja), atau bisa juga menghubungi Rifka Anissa Women Crisis Center di http://www.rifka-annisa.org/id/.

 

(sumber : https://doktergenz.hipwee.com)

Share the Good News!

Post Author: disdaldukkb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *